Sabtu, 22 Maret 2008

ABSTRAK SKRIPSI

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FKIP UNIVERSITAS MURIA KUDUS
SEMESTER GASAL 2007-2008


Pengubahan Sikap Belajar melalui Penerapan Layanan Pembelajaran Siswa Kelas VIII SMP 4 Bae Kabupaten Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007

Dewi Rukmini


Mengembangkan sikap belajar secara sistematis di Sekolah Menengah Pertama (SMP) perlu bagi siswa agar dapat berhasil dalam belajarnya. Pada kenyataannya banyak siswa belum mengembangkan sikap belajar yang diinginkan. Membantu siswa dalam mengembangkan sikap belajar diperlukan layanan bimbingan belajar secara sistematis dan secara teoritis dapat diterima, serta secara empiris terbukti keefektifannya.
Menurut teori behavioral, untuk mengatasi masalah siswa ada dua cara yaitu metode kondisioning dan pembelajaran. Bertolak dari latar belakang maka yang diajukan permasalahan adalah apakah terjadi pengubahan sikap belajar yang signifikan melalui penerapan layanan pembelajaran pada siswa kelas VIII SMP 4 Bae Kabupaten Kudus? Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui tentang pengaruh layanan pembelajaran dalam mengubah sikap belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Bae kabupaten Kudus.
Hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Terjadi Pengubahan Sikap Belajar yang signifikan melalui penerapan layanan pembelajaran pada siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Bae Kabupaten Kudus. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi ekperimen dengan desain one group pre-test, post-test yakni kelompok eksperimen 40 siswa dan kelompok kontrol 40 siswa.
Prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) pengamatan pendahulu an dan pengurusan ijin kepada kepala sekolah; (2) menyiapkan materi bimbingan yang merujuk pada dua faktor Survai Sikap Belajar (SSB) yaitu Teacher Approval (TA) dan Education Acceptance (EA); (3) melatih pembantu peneliti yang selanjutnya sebagai tenaga untuk memberikan perlakuan kepada kelompok eksperimen; (4) melakukan pre-test kelompok eksperimen dengan SSB serta menganalisis hasilnya dengan rumus t-test; (5) menentukan kelompok eksperimen dengan cara mengambil data pre-test kelompok sasaran dengan cara undian; (6) memberikan layanan bimbingan belajar secara efektif kepada kelompok eksperimen dengan pendekatan bimbingan kelas selama 2 bulan
(7) melakukan post-test kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan SSB serta menganalisis hasilnya dengan rumus t-test.
Pengaruh intervensi layanan pembelajaran diketahui dari data sikap belajar siswa SMP 4 Bae Kabupaten Kudus yang diperoleh dari hasil SSB, data yang berhasil dihimpun melalui SSB diproses menggunakan analisis statistik dengan rumus t-test.
Simpulan menunujukkan bahwa layanan pembelajaran dalam bidang bimbingan belajar yang dikemas secara sistematis dapat mengubah sikap belajar siswa terhadap gurunya dari sudut profesional dan personal, mengubah Sikap belajar siswa terhadap peraturan-peraturan sekolah, mata pelajaran yang disajikan dan nilai atau kebergunaan sekolah, pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 4 Bae, Kudus. Hasil analisis data menunjukkan bahwa data pre-test SSB yang dikenakan pada kelompok eksperimen diperoleh perhitungan rata-rata Sikap Belajar sebesar 124,1 dan kelompok kontrol perhitungan rata-rata Sikap Belajar sebesar 123,5. Data post-test SSB yang dikenakan kepada kedua kelompok yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah dianalisis menunjukkan data sebagai berikut: Kelompok eksperimen hasil penghitungan menunjukkan rata-rata skor Sikap belajar 181,1. Kelompok kontrol hasil penghitungan menunjukkan rata-rata skor Sikap Belajar 124,2. Hasil analisis dengan menggunakan uji-t menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk sikap belajar sebesar 28,184> t tabel 1 % = 2,703 hal ini menunjukkan ada perbedaan rata-rata sikap belajar kelompok eksperimen dengan sikap belajar kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan rata-rata yang signifikan antara sikap belajar kelompok eksperimen pre-test dengan sikap belajar siswa kelompok eksperimen post-test.
Saran temuan penelitian bagi pelaksanaan bimbingan dan konseling di SMP, pertama materi bimbingan belajar yang dikemas secara sistematis merupakan teknik alternatif dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah dengan tujuan utama memodifikasi sikap belajar yang buruk atau negatif menjadi sikap belajar yang baik atau positif. Pengubahan sikap belajar buruk dapat diterapkan pada latar belakang individu maupun kelompok sesuai karakteristik siswa. Kedua penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah perlu disusun secara sistematis dan dilaksanakan sesuai rencana, tinggalkan pemberian layanan bimbingan dengan pemberian nasihat.



Pengaruh Pemanfaatan Hasil Layanan Bimbingan Belajar Terhadap Kemandirian Belajar Siswa Kelas V SD 1 Tanjungrejo Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007

Endang Sri Nawangsih



Bimbingan belajar merupakan bentuk layanan yang penting diselenggrakan di sekolah. Dengan diselenggarakannya bimbingan belajar diharapkan siswa akan memiliki kebiasaan belajar yag baik dan mandiri sehingga siswa mendapatkan prestasi yang optimal. Pengaruh yang timbul dengan adanya pemberian bimbingan belajar terhadap siswa dapat dilihat bahwa siswa memiliki kemandirian belajar dan siswa lebih mampu menerima tanggung jawab untuk untuk berbagai keputusan yang berkaitan dengan usaha belajar siswa itu sendiri (siswa yang belajar mandiri menampakkan kemampuannya mentransfer belajarnya baik pengetahuan maupun ketrampilan ke situasi lain yang baru, siswa yang mandiri dapat melibatkan berbagai aktifitas dan sumber-sumber, seperti: membaca yang dipadunya sendiri maupun berpartisipasi di dalam kelompok belajar).
Permasalahan yang diteliti adalah: 1. Bagaimana siswa memanfaatkan hasil layanan bimbingan belajar yang diberikan oleh guru pembimbing di sekolah?; 2. Adakah pengaruh hasil pemanfaatan layanan bimbingan belajar terhadap kemandirian belajar siswa?
Tujuan dalam penelitian ini adalah: 1. Mendeskripsikan pemanfaatan hasil layanan bimbingan belajar siswa kelas V SD 1 Tanjungrejo Kudus; 2. Mendeskripsikan kemandirian belajar siswa kelas V SD 1 Tanjungrejo Kudus; 3) Mengetahui adakah pengaruh yang signifikan, pemanfataan hasil layanan bimbingan belajar terhadap kemandirian belajar siswa kelas V SD 1 Tanjungrejo Kudus.
Variabel dalam penelitian ini adalah pemanfaatan hasil layanan bimbingan belajar sebagai variabel independent, sedangkan kemandirian belajar merupakan variabel dependent.
Penelitain ini dilaksanakan pada siswa kelas V SD 1 Tangungrejo Kudus yang berjumlah 20 siswa. Mengingat jumlah populasi berjumlah 20 siswa, maka dalam penelitian ini menggunakan studi populasi. Metode pengumpulan data menggunakan angket pengaruh pemanfaatan hasil layanan bimbingan belajar terhadap kemandirian belajar.
Analisis statistik yang digunakan adalah regresi linier sederhana untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pemanfataan hasil layanan bimbingan belajar terhadap kemandirian belajar siswa kelas V SD 1 Tanjungrejo Kudus.
Berdasarkan analisis presentase diperoleh hasil: 1. Pemanfaatan hasil layanan bimbingan belajar secara umum termasuk dalam kategori tinggi yaitu 10 responden atau 50%; 2. Tingkat kemandirian belajar siswa kelas V SD 1 Tanjungrejo Kudus secara umum termasuk dalam ketegori tinggi yaitu sembilan responden atau 45%; 3. Presentase pengaruh layanan bimbingan belajar terhadap kemandirian siswa adalah sebesar 92,7%; 4. Hasil uji regresi diperoleh thitung > ttabel adalah 15,168 > 2,101 yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara pemanfaatan hasil layanan bimbingan belajar terhadap kemandirian siswa kelas V SD 1 Tanjungrejo Kudus.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada pengaruh yang signifikan antara pemanfaatan hasil layanan bimbingan belajar terhadap kemandirian belajar. Oleh karena itu, disarankan: 1. Guru pembimbing perlu terus meningkatkan profesionalitas dan layanan bimbingan belajar kepada siswa; 2. Perlunya penerapan gaya belajar mandiri pada setiap mata pelajaran; 3. Perlu adanya kerjasama antara guru pembimbing, guru kelas dan kepala sekolah dalam meningkatkan layanan bimbingan belajar.


Pengaruh Layanan Konseling Kelompok Terhadap Pembentukan Kepribadian Siswa Kelas V SD N Demangan Kudus Tahun Pelajaran 2006/ 2007

Eny Zulaeni


Dengan Konseling Kelompok diharapkan segala permasalahan siswa mengenai tingkah laku, sifat, kepribadian dapat dikembangkan dan dibentuk secara optimal.
Permasalahan Penelitian: Bagaimana pengaruh layanan konseling kelompok terhadap pembentukan kepribadian siswa kelas V SD N Demangan Kudus tahun pelajaran 2006/2007.
Tujuan Penelitian: 1) Mendiskripsikan layanan konseling kelompok terhadap siswa SD. 2) Mendeskripsikan pembentukan kepribadian siswa SD. 3) Mengetahui seberapa besar pengaruh layanan konseling kelompok terhadap pembentukan kepribadian siswa kelas V SD N Demangan Kudus.
Manfaat Penelitian: 1) Secara teoritis, menambah khasanah pustaka pendidikan dan sekaligus sebagai bahan masukan bagi penelitian sejenisnya. 2) Secara praktis memberikan kontribusi kepada: a) Kepala sekolah dan guru agar lebih termotivasi dalam melaksanakan program pendidikan sekolah. Terutama pemberian layanan konseling kelompok dalam rangka membantu siswa mengenali diri dan lingkungannya kaitannya dengan kepribadian. b) Guru, hasil penelitian dijadikan sebagai acuan untuk mengembangkan siswa dalam membentuk kepribadian melalui layanan konseling kelompok. c) Orang tua, agar menanamkan sikap/ perilaku yang baik kepada putra-putrinya pada khususnya. d) Siswa, agar memahami pentingnya tingkah laku dalam aktivitas diri di lingkungan masyarakat.
Hipotesis Penelitian ini adalah: Konseling kelompok berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan kepribadian siswa Kelas V SD N Demangan Kudus tahun pelajaran 2006/ 2007. Variabel konseling kelompok sebagai variabel bebas (X) dan pembentukan kepribadian sebagai variabel terikat (Y). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara dalam metode angket. Untuk mencari validitas dan reliabilitas menggunakan bantuan komputer program SPSS. Populasi penelitian sebanyak 20 siswa dan teknis analis data menggunakan prosentase dan analisis regresi.
Hasil Penelitian: 1) Prosentase skor angket konseling kelompok sebanyak 40% dan tergolong ke dalam kriteria tinggi. 2) Prosentase skor angket pembentukan kepribadian sebanyak 45% tergolong ke dalam kriteria tinggi. 3) Konseling kelompok berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan kepribadian Siswa Kelas V SD N Demangan Kudus tahun pelajaran 2006/ 2007 dengan hasil thitung = 5,926 > ttabel = 2,09 pada taraf signifikan 5% atau dapat dilihat dari taraf signifikansi yang menunjukkan sig 0,00 < 0,05.
Simpulan: Dari hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa konseling kelompok berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan kepribadian Siswa Kelas V SD N Demangan Kudus tahun pelajaran 2006/ 2007.
Saran: 1) Bagi guru pembimbing, konseling kelompok seharusnya direncanakan dengan matang sehingga permasalahan yang dialami siswa dapat terpecahkan dengan baik serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan masalah, pendapat maupun alternatif-alternatif pemecahan masalah yang dihadapi oleh anggota kelompok. 2) Bagi siswa agar berperan aktif dalam mengikuti konseling kelompok.


Skripsi Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Penyesuaian diri siswa kelas VIII SMP N 1 Mejobo Kudus Semester Genap Tahun Pelajaran 2006/2007

Erna Khilmawati


Masa remaja dikenal dengan pergolakan emosi, yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan teman sebaya. Untuk itu remaja harus memiliki ketrampilan komunikasi yang mendukung kesuksesan dalam hidup, ketrampilan yang di maksud yaitu kecerdaan emosional atau emotional intelegence yang merujuk kepada kemamapuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dalam hubungan dengan orang lain. Orang yang memiliki kecerdaan emosional ini akan pandai menyesuaikan diri dengan dengan orang lain. Penyesuaian diri adalah proses dinamis yang bertujuan merubah tingkah laku individu agar terjadi hubungan yang sesuai antara dirinya dan lingkungan sosialnya yang dilakukan secara timbal balik baik fisik dan psikis.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah adakah hubungan positif yang signifikan kecerdasan emosional dengan penyesuaian diri siswa kelas VIII SMP N 1 Mejobo Kudus semester genap Tahun Pelajaran 2006/2007.
Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan hubungan kecerdasan emosional dengan penyesuaian diri siswa kelas VIII SMP N 1 Mejobo Kudus semester genap Tahun Pelajaran 2006/2007.
Manfaat bagi sekolah khususnya kepada guru Bimbingan dan Konseling untuk memasukan konsep kecerdasan emosional ke dalam kompetensi pendidikan agar siswa bisa bertahan menghadapi tantangan yang akan datang. Bagi orang tua sebagai bahan acuan dalam mendidik anaknya agar membekali dan membina penguasaan terhadap emosi. Bagi siswa mampu mengendalikan dan mengontrol emosinya.
Hipotesis: Ada hubungan positif yang signifikan kecerdasan emosional dengan penyesuaian diri siswa kelas VIII SMP N 1 Mejobo Kudus semester genap Tahun Pelajaran 2006/2007.
Populasi penelitian mencakup semua siswa kelas VIII SMP N 1 Mejobo dengan sampel penelitian sebanyak 70 siswa yang terdiri dari 37 siswa putri dan 33 siswa putra. Dengan alat pengumpul data berupa angket.
Penelitian ini tidak mengadakan uji coba karena memakai content validity dengan mengasumsikan pada pendapat salah satu ahli yang menyatakan angket tidak perlu diuji coba secara psikometris karena reliabilitas hasil angket terletak pada terpenuhinya asumsi bahwa responden akan menjawab dengan jujur seperti adanya. Sedangkan validitas angket ditentukan kejelasan tujuan dan lingkup informasi yang hendak diungkap. Dengan mengacu pada pendapat tersebut angket sudah dinyatakan valid dan reliabel.
Hasil analisis data dengan jumlah responden 70 siswa menggunakan statistic analisis product moment menunjukan rxy = 0,367 lebih besar dari harga kritik tabel pada taraf signifikan 5% sebesar 0,235. Berdasarkan temuan penelitian ini dapat di simpulkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan kecerdasan emosional dengan penyesuaian diri siswa kelas VIII SMP N 1 Mejobo Kudus semester genap Tahun Pelajaran 2006/2007.
Saran yang peneliti sampaikan berdasarkan hasil temuan pada penelitian ini adalah bagi guru bimbingan dan konseling hendaknya mengembangkan konsep kecerdasan emosional mendukung kemampuan dalam menyesuaikan diri siswa. Kepada orang tua dengan menanamkan sejak kecil memberikan pembelajaran kepada mereka untuk mengendalikan emosi ketika menghadapi suatu masalah dan menghargai perbedaaan serta memiliki empati. Dan bagi siswa untuk memupuk dan meningkatkan kepekaan emosionalnya agar mudah dalam berkomunikasi dengan orang lain sehingga berhasil meraih kesuksesan dalam hidup.



Pengaruh Layanan Konseling Kelompok Dalam Upaya Penanganan Prestasi Belajar Rendah Pada Siswa Kelas V Sd Negeri 2 Dersalam Kudus
Tahun Pelajaran 2006/2007

Heni Susilowati

Dengan konseling kelompok diharapka permasalahan siswa mengenai prestasi belajar yang rendah dapat diatasi secara tepat dan optimal.
Permasalahan Penelitian : Bagaimana Pengaruh Layanan Konseling Kelompok Dalam Upaya Penanganan Prestasi Belajar Rendah Pada Siswa Kelas V Sd Negeri 2 Dersalam Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007.
Tujuan Penelitian : (1) Mendeskripsikan Layanan Konseling Kelompok Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Rendah Pada Siswa Kelas V Sd Negeri 2 Dersalam Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007. (2) Mengetahui pengaruh Layanan Konseling Kelompok Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Rendah Pada Siswa Kelas V Sd Negeri 2 Dersalam Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007.
Manfaat Penelitian : (1) Secara Teoritis, mengembangkan ilmu pengetahuan pada umumnya, dan khususnya dalam hal layanan konseling dalam upaya meningkatkan pengalaman dan pemahaman peneliti dalam bidang bimbingan dan konseling. (2) Secara Praktis : bagi guru bermanfaat dalam menggali pengalaman khususnya dalam menangani siswa secara kelompok, bagi siswa bermanfaat dalam mengatasi masalah prestasi belajar rendah, dan bagi sekolah membantu menangani siswa yang mempunyai prestasi belajar rendah sehingga pelayanan bimbingan konseling dapat lebih dikenal di sekolah dasar.
Hipotesis penelitian ini adalah: Konseling Kelompok berpengaruh secara signifikan terhadap Penanganan Prestasi Belajar Rendah Pada Siswa Kelas V SD Negeri 2 Dersalam Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 diterima dan teruji kebenarannya. Variabel Konseling Kelompok sebagai variabel bebas (X) Dan Prestasi Belajar sebagai variabel terikat (Y).Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode angket dan dokumentasi. Untuk mencari validitas dan reliabilitas menggunakan bantuan komputer program SPSS ( Statistical Product and Service Solution ). Subjek penelitian sebanyak 8 siswa yang mempunyai prestasi belajar rendah dan teknik analisis data menggunakan prosentase dan analisis regresi.
Hasil Penelitian : 1) Prosentase skor angket konseling kelompok pada umumnya masih kurang, diperoleh kategori baik sekali 25%, baik 25%, cukup 12,5%, kurang 37,5%.2). Prosentase skor angket upaya meningkatkan prestasi belajar rendah pada umumnya baik, diperoleh kategori baik sekali 37,5%, baik 25%, cukup 12,5%, dan kurang 25%.3)Konseling Kelompok berpengaruh secara signifikan dalam Upaya Penanganan Prestasi Belajar Rendah Pada Siswa Kelas V SD Negeri Dersalam Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 diterima dan teruji kebenarannya. Dengan hasil penelitian t-hitung n:8 =5,890 > t-tabel n:8 =2,306 pada taraf signifikan 5% atau dapat dilihat dari taraf signifikansi menunjukkan sig.0,01 , 0,05.
Simpulan: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok berpengaruh secara signifikan terhadap penanganan prestasi belajar rendah Pada Siswa Kelas V SD Negeri 2 Dersalam Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007.
Saran: 1) Bagi guru Kelas, agar lebih memperhatikan siswa yang mempunyai prestasi belajar rendah.2) Bagi guru mapel agar lebih memperhatikan siswanya khususnya begi siswa yang berprestasi rendah.3) Bagi siswa agar aktif bertanya dalam kegiatan konseling kelompok. 4) Bagi orang tua diharapkan agar lebih memperhatikan anaknya khususnya dalam hal belajar.


Studi Kasus Penerapan Model Konseling Behavioristik Untuk Menangani Individu Yang Menyalahgunakan Handphone di SMP 3 Bae Kudus
Tahun Pelajaran 2006/2007

Mamik Puspitowati


Dalam kegiatan belajar mengajar sering kita jumpai beberapa siswa yang mengalami penyimpangan perilaku. Jika perilakunya tidak sesuai dengan norma tata tertib sekolah, maka siswa diasumsikan mengalami penyimpangan perilaku. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh penerapan model konseling behavioristik terhadap penyalahgunaan handphone di SMP 3 Bae Kudus tahun Pelajaran 2006 / 2007.
Tujuan yang hendak dicapai mengetahui faktor-faktor penyebab penyalahgunaan handphone dan membantu individu mengentaskan masalah dalam penyalahgunaan handphone agar sadar apa yang dilakukan selama ini tidak menguntungkan bagi dirinya dan meresahkan orang disekitarnya.
Manfaat penelitian bagi kepala sekolah dapat memahami wawasan tentang penerapan model konseling behavioristik dalam menangani individu yang menyalahgunakan handphone, membantu guru bimbingan konseling mengetahui faktor-faktor penyebab penyalahgunaan handphone dan cara mengatasinya, sebagai masukan bagi siswa agar terhindar dari penyalahgunaan handphone serta membantu orang tua dalam meningkatkan kewaspadaan dalam pergaulan anak-anaknya.
Pendekatan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian diskriptif studi kasus. Fokus penelitian adalah 3 ( tiga ) siswa kelas IX di SMP 3 Bae Kudus yang mengalami penyalahgunaan handphone. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode pokok wawancara dan metode pelengkapnya dokumentasi dan home visit.
Bentuk analisis data menggunakan teknik analisis data induksi sistim bacon, dilakukan secara sistimatis mulai proses pengumpulan data, mengklasifikasi, mendiskripsikan dan menginterpretasikan.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa penyebab penyalahgunaan handphone adalah : 1) Faktor internal yaitu kurang motivasi dan konsentrasi belajar, belum tau cara penyelesaian masalah secara benar. 2) Faktor eksternal yaitu kurang perhatian dan kasih sayang orang tua, salah dalam memilih teman. Upaya mengatasi siswa yang menyalahgunakan handphone diberikan layanan konseling individu dengan menerapkan pendekatan konseling behavioristik dengan teknik assertive training.
Berdasarkan penelitian ini, peneliti memberikan saran : 1) Kepada Kepala Sekolah perlu mengadakan peraturan tata tertib penggunaan handphone di sekolah. 2) Kepada guru bimbingan konseling memberikan sosialisasi tentang peraturan penggunaan handphone di sekolah, ikut memantau penggunaan handphone pada saat belajar mengajar.3) Kepada orang tua supaya tidak memberikan handphone yang terlalu banyak fungsinya (multi fungsi), memberi perhatian dan pemantauan terhadap penggunaan handphone anaknya serta menjalin kerja sama dengan pihak sekolah. 4). Kepada siswa / klien supaya hati-hati dalam memilih teman,dapat memanfaatkan handphone sebagai alat komunikasi, dapat menjaga diri agar terhindar dari penyalahgunaan handphone.



Studi Kasus Dan Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Dengan Teknik Eksistensial Humanistik Pada Siswa Kelas IX A SMP 2 Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007

Munisah


Pelayanan Bimbingan dan Konseling di SMP merupakan layanan bantuan yang diberikan kepada individu baik yang mempunyai masalah maupun yang tidak mempunyai masalah. Siswa yang mengalami kesulitan dan kegagalan dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh rendahnya intelegensi, namun disebabkan juga oleh hambatan-hambatan yang nampak pada berbagai jenis manifestasi tingkah laku, oleh karena itu perlu dibantu dengan layanan bimbingan dan konseling, salah satunya dengan layanan konseling Eksistensial Humanistik.
Mengacu pada latar belakang tersebut maka perumusan masalah yang dikaji adalah faktor-faktor apa sajakah yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa dan bagaimana upaya mengatasi kesulitan belajar dengan teknik eksistensial Humanistik pada siswa kelas IX A SMP 2 Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007.
Tujuan penelitian ini adalah menemukan faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa dan menemukan cara alternatif untuk mengatasi kesulitan belajar siswa dengan teknik Eksistensial Humanistik. Sehingga penelitian ini dapat bermanfaat dan menjadi masukan bagi Kepala sekolah, Guru, Orangtua dan Siswa itu sendiri.
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian Kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif Studi kasus. Penelitian ini mengungkap cara mengatasi kasus kesulitan belajar yang dialami dua siswa kelas IX A SMP 2 Kudus tahun pelajaran 2006/2007. teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi, wawncara observasi, dan kunjungan rumah.
Bentuk analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik analisis induksi sistem bacon yaitu peneliti mengumpulkan faktor sebanyak-banyaknya yang kemudian di tabulasikan dan ditarik kesimpulan lalu dilanjutkan ke pemecahan masalah.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyebab kesulitan belajar kasus 1 (HP) adalah siswa kurang perhatian dari kedua orang tua, karena keduanya sibuk bekerja sehingga kurang pengawasan, akibatnya siswa terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bermain dari pada belajar. Siswa juga sering tidak mengerjakan tugas/latihan ujian yang diberikan guru mata pelajaran. Begitupula dengan kasus II (INL) Siswa berada dalam keluarga broken home karena kurang perhatian dari orangtua, akhirnya siswa memiliki semangat belajar yang rendah. Untuk mengatasi masalah kesulitan belajar tersebut diperlukan layanan konseling Eksistensial Humanistik untuk membantu mengatasi permasalahannya secara bebas dan bertanggung jawab.
Saran peneliti kepada Kepala Sekolah hendaknya bertanggung jawab terhadap permasalahan yang ada dan mengadakan supervisi. Bagi guru dan pembimbing hendaknya membantu memahami potensi siswa serta memberikan perhatian dan kasih sayang sehingga siswa memiliki kebebasan yang bertanggung jawab. Bagi orang tua hendaknya memberikan perhatian dan motivasi belajar terhadap putra-putrinya dengan cara mendampingi putra-putrinya dalam belajar. Bagi siswa diharapkan melakukan kegiatan yang kreatif dan positif sehingga mampu meraih prestasi yang diharapkan.



Perbedaan Motivasi Belajar Siswa Dalam Kaitannya Dengan Jenis Pekerjaan Orang Tua Pada Siswa Kelas VIII SMP 1 Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007

Noor Ida Ariyani


Keadaan ekonomi keluarga yang serba berkecukupan akan timbul pada diri anak untuk belajar lebih giat dalam menghadapi persaingan. Karena dengan keadaan yang berkecukupan maka fasilitas belajar anak akan terpenuhi sehingga anak tidak akan menemui kesulitan dalam belajar. Kesulitan dalam belajar disebabkan oleh fasilitas belajar yang kurang lengkap dan jika fasilitas kurang lengkap maka anak akan kurang termotivasi dalam belajar.
Dalam penelitian ini, permasalahan penelitian dirumuskan berikut : Adakah perbedaan motivasi belajar siswa dalam kaitannya dengan jenis pekerjaan orang tua pada siswa kelas VIII SMP 1 Kudus tahun pelajaran 2006/2007.
Tujuan penelitian : 1. untuk mengetahui motivasi belajar siswa. 2. untuk mendapatkan data jenis pekerjaan orang tua. 3. untuk mengetahui perbedaan motivasi belajar siswa dalam kaitannya dengan jenis pekerjaan orang tua pada siswa kelas VIII SMP 1 Kudus tahun pelajaran 2006/2007.
Manfaat penelitian : Manfaat secara teoritis antara lain yaitu 1. sumber informasi atau masukan dalam bidang pendidikan khususnya bimbingan dan konseling. 2. sebagai pengembangan ilmu pengetahuan khusus tentang perbedaan motivasi belajar siswa dalam kaitannya dengan jenis pekerjaan orang tua sehingga untuk penelitian berikut sebagai bahan kajian yang lebih mendalam. 3. memberikan sumbangan ilmiah pada ilmu pendidikan khususnya bimbingan konseling dalam hal motivasi belajar. Dan manfaat secara praktis antara lain yaitu 1. mampu membantu siswa mengembangkan potensinya karena kegagalan siswa bukan berarti kebodohan siswa tapi atas faktor faktor lain. 2. memberi masukan pada orang tua agar memberi motivasi belajar yang optimal sehingga prestasi anak akan meningkat. 3. memberikan informasi pada dunia pendidikan terutama siswa untuk lebih termotivasi belajarnya guna mencapai prestasi belajar yang tinggi.
Hipotesis yang diajukan : Ada perbedaan yang signifikan antara motivasi belajar siswa dalam kaitannya dengan jenis pekerjaan orang tua pada siswa kelas VIII SMP 1 Kudus tahun pelajaran 2006/2007 diterima karena teruji kebenarannya.
Variabel penelitian : 1. variabel bebas yaitu jenis pekerjaan orang tua dan 2. variabel tergantung yaitu motivasi belajar.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP 1 Kudus sebanyak 292 orang siswa. Sampel penelitian sebanyak 44 orang siswa atau penelitian populasi. Uji validitas instrument penelitian yaitu angket motivasi siswa dengan menggunakan analisis product moment dengan nilai r hitung = 0,943 > r tabel = 0,632 N = 10 pada taraf signifikan 5 %. Hasil uji validitas dari 40 butir item ternyata ada 10 butir yang tidak valid karena lebih rendah dari r tabel. Sedangkan uji reliabilitasnya menggubakan rumus Alpha. Harga reliabilitasnya yang diperoleh 0,943.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket. Tekhnik analisis data yang digunakan adalah ANAVA tunggal . Hasil analisis data adalah Fo 5,60. Sedangkan Ft pada taraf signifikan 5 % adalah 2,021 dan pada taraf signifikan 1 % 2,704. Dengan demikian Fo > Ft hal ini berarti bahwa hipotesa kerja diterima. Jadi ada perbedaan motivasi belajar siswa dalam kaitannya dengan jenis pekerjaan orang tua.
Saran yang diajukan dari hasil penelitian : 1. Bagi guru pembimbing, setelah mengetahui ada perbedaan antara motivasi belajar siswa dalam kaitannya dengan jenis pekerjaan orang tua hendaknya lebih meningkatkan perhatian dan tanggung jawab pelaksanaan layanan bimbingan belajar sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. 2. Bagi siswa, Agar berani menghadapi segala rintangan yang menghambat kegiatan belajarnya dan berusaha untuk mengatasinya dan berprinsip bahwa belajar merupakan kebutuhan hidup tidak sekedar kewajiban. 3. Bagi orang tua, untuk anak yang motivasinya sudah baik hendaknya bisa mempertahankan sedangkan untuk anak yang motivasinya kurang hendaknya meningkatkan motivasi belajar.



Meningkatkan Rasa Percaya Diri dengan Menggunakan Layanan Konseling Kelompok (Studi Kasus pada Mahasiswa Semester II FKIP BK UMK Tahun Akademik 2006/2007)

Nurul Listiyani


Skripsi ini ditulis berdasarkan latar belakang masalah bahwa rasa percaya diri diperlukan individu dalam segala hal. Rasa percaya diri bersifat dinamis, dapat meningkat maupun menurun sehingga perlu menjaganya agar tetap berada di tingkat yang proporsional. Konseling kelompok sebagai salah satu layanan pemberian bantuan kepada individu-individu yang sedang berkembang untuk mencapai perkembangan yang optimal dan mandiri. Dalam kehidupan sehari-hari, ditemukan banyak mahasiswa yang bermasalah dengan rasa percaya diri. Untuk mengatasi masalah itu dapat diatasi dengan konseling kelompok sehingga rasa percaya diri dapat ditingkatkan.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana meningkatkan rasa percaya diri dengan menggunakan layanan konseling kelompok pada mahasiswa semester II FKIP BK UMK tahun akademik 2006/2007?”
Tujuan penelitian yaitu: 1. Untuk mengetahui faktor penyebab masalah rasa percaya diri mahasiswa; 2. Untuk meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa semester II FKIP BK UMK tahun akademik 2006/2007.
Manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat teoritis: a. Sebagai teori belajar dalam memahami dan membantu meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa; b. Mendorong dilakukan penelitian lanjutan tentang rasa percaya diri mahasiswa maupun dalam bidang lainnya di Universitas Muria Kudus; 2. Manfaat praktis: a. Landasan praktis para mahasiswa bimbingan dan konseling dalam memahami dan membantu meningkatkan rasa percaya diri; b. Sebagai bahan pertimbangan bagi dosen FKIP BK UMK untuk memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada mahasiswa; c. Masukan bagi mahasiswa tentang pentingnya rasa percaya diri dalam rangka mengaktualisasikan diri.
Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif studi kasus. Fokus penelitian adalah enam mahasiswa semester II FKIP BK UMK yang memiliki skor angket terendah tentang rasa percaya diri. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket untuk menentukan subjek penelitian, sedangkan observasi dan wawancara untuk mengetahui peningkatan rasa percaya diri setelah layanan konseling kelompok.
Cara menganalisis data dengan: 1. Pengumpulan data; 2. Reduksi data; 3. Penyajian data; 4. Penarikan simpulan, yang saling terkait pada selama dan sesudah penelitian sehingga simpulan dapat dicek ulang keabsahannya.
Hasil penelitian ini adalah: 1. Faktor penyebab masalah rasa percaya diri pada mahasiswa yaitu konseli: a. PN: tingkat ekonomi rendah; b. NJ: takut gagal; c. UK dan AN: prestasi akademik rendah; d. FA: merasa dirinya tidak memiliki kemampuan; e. NF: tidak berani tampil di depan umum; 2. Rasa percaya diri mahasiswa dapat ditingkatkan menggunakan konseling kelompok yang diwujudkan dalam tingkah lakunya.
Simpulan penelitian ini yaitu: 1. Ada lima faktor penyebab masalah rasa percaya diri; 2. Rasa percaya diri mahasiswa mengalami peningkatan dan hal itu dipengaruhi oleh motivasi dan konsep diri yang positif.
Saran yang peneliti sampaikan berdasarkan hasil temuan pada penelitian ini adalah: 1. Perlu adanya layanan konseling mahasiswa yang dilembagakan untuk memberikan layanan kepada para mahasiswa; 2. Hendaknya dosen pembimbing memiliki pemahaman tentang keadaan mahasiswa dan membantu mengatasi masalah mahasiswa; 3. Mahasiswa hendaknya menjalin rapport dengan para dosen hubungannya dengan penanganan masalahnya maupun dalam hal lain tentang akademik, serta menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah individu dan bisa melaksanakan konseling perorangan maupun kelompok sesuai prosedur; 4. Peneliti lain perlu mengadakan penelitian lebih lanjut dan lebih lengkap yang berkaitan dengan rasa percaya diri mahasiswa maupun masalah lainnya dengan menggunakan layanan konseling kelompok.



Efektivitas Pendidikan Budi Pekerti Terhadap Tingkah Laku Siswa SD Negeri 4 Terban Tahun Pelajaran 2005/2006

Rochmat


Pendidikan budi pekerti merupakan pendidikan moral, etika yang berfungsi menumbuhkembangkan individu yang berakhlak mulia dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari.
Permasalahan penelitian dirumuskan: 1) Bagaimanakah kondisi riil dari tingkah laku siswa SD Negeri 4 Terban Kudus ?. 2) Apa faktor-faktor penyebab tingkah laku negatif siswa SD Negeri 4 Terban Kudus ? 3) Berapa besar kefektifan pendidikan budi pekerti efektif untuk mengatasi tingkah laku negatif siswa SD Negeri 4 Terban Kudus ?
Tujuan penelitian: 1) untuk mengetahui kondisi riil dari tingkah laku siswa SD Negeri 4 Terban Kudus. 2) untuk mengetahui faktor-faktor penyebab tingkah laku negatif siswa SD Negeri 4 Terban Kudus. 3) untuk mengetahui kefektifan pendidikan budi pekerti efektif untuk mengatasi tingkah laku negatif siswa SD Negeri 4 Terban Kudus.
Manfaat penelitian: 1) Secara teoritis hasil penelitian ini sebagai sumber informasi bagi guru dan untuk memperluas wawasan. 2) Secara praktis sebagai masukan atau bahan pertimbangan kepada Kepala Sekolah serta Dewan Guru dalam memasukkan pendidikan budi pekerti ke dalam mata pelajaran yang sesuai, guna mengantisipasi ataupun guna mengatasi tingkah laku negatif siswa. Dan sebagai masukan pada orang tua tentang pentingnya pendidikan budi pekerti, guna mencegah terjadinya tingkah laku negatif siswa serta demi keberhasilan belajarnya.
Pendekatan penelitian adalah kuantitatif. Variabel penelitian : 1) Variabel independent (pendidikan budi pekerti) selanjutnya disebut variabel X. 2) Variabel dependent (tingkah laku siswa) selanjutnya disebut variabel Y.
Populasi penelitian siswa kelas IV, V, VI, dan guru SD Negeri 4 Terban Tahun Pelajaran 2005/2006 sebanyak 126 siswa. Sampel penelitian berjumlah 45 siswa. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah angket. Teknik analisis data yang digunakan untuk menghitung skor angket budi pekerti dan tingkah laku siswa adalah teknik analisis Chi-Kuadrat (chi-square).
Simpulan hasil penelitian : 1) Hipotesis yang berbunyi pendidikan budi pekerti efektif untuk mengatasi tingkah laku siswa SD Negeri 4 Terban, diterima karena teruji kebenarannya. 2) Hasil penelitian diperoleh 45 siswa menunjukkan tingkah laku budi pekerti yang baik 9 siswa laki-laki, dan 26 siswa perempuan. Tingkah laku yang menunjukkan tidak baik 10 siswa laki-laki, dan tidak ada siswa perempuan yang menunjukkan tingkah laku tidak baik. Tingkah laku yang baik 6 siswa laki-laki, dan 25 siswa perempuan. Tingkah laku siswa yang menunjukkan tidak baik 13 siswa laki-laki, dan 1 siswa perempuan. 3) Temuan penelitian dengan analisis Chi-Kuadrat (chi-square) antara pendidikan budi pekerti dan tingkah laku siswa dengan d.b = 1 dan taraf signifikan 5% = 55,8 diketahui c2 hitung 81,71.
Saran hasil penelitian : 1) Karena hipotesis yang berbunyi pendidikan budi pekerti efektif untuk mengatasi tingkah laku siswa SD Negeri 4 Terban, diterima karena teruji kebenarannya, maka hendaknya guru kelas sebagai guru pembimbing lebih meningkatkan pelayanannya secara administrasi maupun dalam praktik mengajar pendidikan budi pekerti melalui pemberian layanan bimbingan didukung dengan berbagai fasilitas yang ada, serta lebih meningkatkan kemampuan dan pengalaman mengajar dengan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. 2) Kepada orang tua, tokoh masyarakat, ulama dan pihak-pihak yang terkait pemerhati pendidikan anak, hendaknya dapat dijadikan sebagai model dari anak-anaknya di rumah selalu memberi contoh budi pekerti dan tingkah laku yang baik. 3) Kepada Kepala Sekolah, guru kelas dan guru pembimbing bimbingan dan konseling, hendaknya memperhatikan siswa yang tingkah lakunya kurang baik dengan memberikan layanan konseling untuk memecahkan masalah yang dihadapi siswa, sehingga siswa nantinya dapat berbudi pekerti baik di masyarakat dan dapat mencapai prestasi belajar yang optimal. 4) Perlu diadakan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar.



Studi Kasus Penerapan Model Konseling Reality Therapy dalam Mengatasi Siswa Membolos di SMK PGRI Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007

Setyaningsih


Model Konseling Reality Therapy merupakan bentuk hubungan pertolongan yang praktis, relatif sederhana, dan bentuk bantuan langsung pada klien, serta dapat digunakan untuk mengatasi individu yang sering membolos.
Dalam kegiatan pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan, sering kita temui adanya beberapa siswa yang sikap perbuatannya melanggar norma-norma atau aturan-aturan yang telah ditentukan oleh sekolah. Pelanggaran tersebut diantaranya : siswa membolos, berpakaian seragam tidak lengkap, siswa terlambat dan lain-lain. Adapun pelanggaran yang sering terjadi di SMK PGRI 2 Kudus yakni siswa sering membolos/tidak masuk sekolah tanpa ijin, sikap membolos dapat merugikan diri sendiri dan merupakan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu siswa yang sering membolos perlu mendapatkan layanan bimbingan, yaitu dengan penerapan model reality therapy.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis kemukakan rumasan permasalahan : 1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan perilaku membolos pada peserta didik kelas XI SMK PGRI-2 Kudus semester genap tahun pelajaran 2006/2007? 2. Apakah penerapan model konseling Reality Therapy efektif untuk mengatasi perilaku membolos pada peserta didik kelas XI SMK PGRI-2 Kudus semester genap tahun pelajaran 2006/2007?
Tujuan penelitian ini adalah 1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perilaku membolos pada peserta didik kelas XI SMK PGRI-2 Kudus. 2. Untuk mengetahui penerapan model konseling Reality Therapy yang efektif guna mengatasi perilaku membolos pada peserta didik kelas XI SMK PGRI-2 Kudus.
Manfaat Penelitian 1. manfaat teoritis : Memberikan wawasan keilmuan khususnya yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling, lebih khusus wawasan ini menyangkut efektivitas model konseling Reality Therapy., Menjadi bahan pustaka untuk penelitian-penelitian selanjutnya. 2. Manfaat Praktis : Menambah wawasan guru BK dalam layanan konseling, khususnya dalam penanganan perilaku membolos di SMK PGRI-2 Kudus; Memberikan masukan kepada guru mata pelajaran tentang penanganan perilaku membolos di SMK PGRI-2 Kudus; Membantu orang tua peserta didik dalam membimbing putra putrinya agar lebih rajin masuk sekolah; Membantu siswa untuk mengenali potensi dirinya termasuk kelebihan dan kekurangannya.
Penelitian ini termasuk penelitian kasus yaitu penelitian yang dilakukan secara terperinci dan mendalam terhadap suatu gejala tertentu, sehingga tingkat kemajuan tingkah laku individu dapat dipelajari. Bentuk pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriftif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian adalah kelas XI AK 2 SMK PGRI 2 Kudus tahun pelajaran 2006/2007 berjumlah 134 siswa, namun sesuai dengan kasus pelanggaran yang dialami siswa terbanyak adalah 71 siswa membolos. Penentuan sampel dengan menggunakan purposive sampling (sampel bertujuan) yaitu 2 (dua) sampel siswa membolos dengan harapan penelitian ini dapat terpokus.
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan model Konseling Reality Therapy dapat disimpulkan bahwa 1. Faktor-faktor yang menyebabkan perilaku membolos pada peserta didik kelas XI SMK PGRI-2 Kudus semester genap tahun pelajaran 2006/2007 adalah merasa malu terhadap teman-temannya karena ibunya menikah lagi, kurang perhatian dari orang tua, kurang adanya komunikasi dengan orang tua, fasilitas belajar yang tidak memadai, mudah terpengaruh oleh teman untuk diajak bermain, 2. Penerapan model konseling Reality Therapy efektif untuk mengatasi perilaku membolos pada peserta didik kelas XI SMK PGRI-2 Kudus semester genap tahun pelajaran 2006/2007 yang digunakan peneliti memakai pendekatan prosedur WDEP. Melalui pendekatan ini diharapkan dalam pemberian bantuan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Penerapan prosedur WDEP yang digunakan untuk membantu klien memecahkan masalah perilaku membolos. Setelah diterapkan model Reality Therapy dengan menggunakan prosedur WDEP maka klien menyadari kesalahannya dan berkomitmen untuk merubah tingkah lakunya dari yang suka membolos menjadi lebih rajin sekolah.
Saran yang dapat penulis sampaikan berdasarkan simpulan tersebut adalah 1. Kepala Sekolah Memberikan fasilitas / sarana prasarana yang memadai untuk kegiatan bimbingan dan konseling, memberi kesempatan kepada guru pembimbing untuk mengikuti penataran dan pelatihan; memberikan sanksi tegas kepada siswa yang sering membolos. 2.Guru Pembimbing : Agar meningkatkan professionalitasnya dengan mengikuti penataran-penataran dan pelatihan; Memberikan motivasi kepada anak didiknya; Perlu adanya kekompakan/kerjasama yang baik dengan semua pihak yang terkait dalam menangani klien; 3.Guru Mata Pelajaran : bekerja sama dengan guru pembimbing dalam memberi bantuan kepada klien; Memberi kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan bimbingan; Ikut berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa seperti konferensi kasus. 4. Orang Tua : Hendaknya memberikan motivasi, menyediakan fasilitas belajar yang memadai; memberikan perhatian dan pengawasan tentang pendidikan dan pergaulan anak-anaknya. 5. Siswa-siswi : hendaknya mematuhi peraturan dan tata tertib sekolah serta berkonsultasi dengan wali kelas, guru pembimbing apabila ada menghadapi permasalahan sehingga berbagai permasalahan yang dihadapinya dapat terpecahkan.


Hubungan Ketaatan Menjalankan Shalat dan Pencegahan Kenakalan Remaja Pada Siswa Kelas VIII MTs Negeri Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007

Siti Rahmani


Shalat adalah salah satu rukun Islam yang sangat urgen. Apabila siswa memiliki tingkat ketaatan dalam menjalankan ibadah shalat yang sangat baik, maka anak akan terjauhkan atau tercegah untuk melakukan kenakalan atau hal-hal yang dilarang oleh agama, negara maupun masyarakat. Sebagai pertimbangan mengapa ketaatan menjalankan ibadah shalat mempunyai andil yang sangat baik terhadap pencegahan kenakalan remaja siswa, hal ini dikarenakan orang yang senantiasa berdiri dari satu waktu ke waktu lain di hadapan Tuhannya dengan penuh kekhusyu’an dan ketadhorru’an serta merasa rendah hati juga mengetahui betapa wibawa dan hebatnya Dzat yang dihadapi itu, pasti akan timbul rasa ketakutan serta keseganan yang luar biasa dalam kalbunya. Jikalau perasaan ini sudah mendarah daging pastilah seseorang akan merasa takut kepada Allah serta enggan melakukan kejahatan.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dirumuskan sebagai berikut : Adakah hubungan positif yang signifikan Ketaatan Menjalankan Shalat dengan Pencegahan Kenakalan Remaja pada siswa kelas VIII MTs Negeri Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 ?
Penelitian ini bertujuan : 1) Untuk mengetahui seberapa besar ketaatan menjalankan Shalat pada Siswa kelas VIII MTs. Negeri Kudus Tahun pelajaran 2006/2007., 2) Untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat kenakalan remaja pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Kudus Tahun pelajaran 2006/2007 dan 3) Untuk mengetahui hubungan Ketaatan Menjalankan Shalat (variable X) dan Pencegahan Kenakalan Remaja (variabel X) pada siswa kelas VIII MTs Negeri Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007.
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas VIII MTs Negeri Kudus pelajaran 2006/2007, sebanyak 436 siswa. Dan sebagai sampel penelitian diambil 10 % dari jumlah populasi yaitu sebanyak 43 siswa, terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan.
Metode penelitian diperoleh dengan memberi daftar pertanyaan tertulis, yaitu angket yang mencakup : Ketaatan Menjalankan Shalat (variable X) sebanyak 40 item pertanyaan. Sedangkan angket tentang Pencegahan Kenakalan Remaja (variable X) berjumlah 40 item pertanyaan.
Berdasarkan hasil analisis hasil pengumpulan data dengan angket tentang ketaatan menjalankan shalat, oleh siswa Kelas VIII MTs Negeri Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007, dalam kriteria Sangat baik (92,05%). Sedangkan angket
pencegahan kenakalan remaja siswa kelas VIII MTs Negeri Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 dalam kriteria Sangat baik (94,17%). Serta didukung dengan pembuktian hasil uji hipotesis dengan menggunakan rumus “Korelasi product moment” antara variabel ketaatan menjalankan shalat (Variabel X) dengan pencegahan kenakalan remaja siswa kelas VIII MTs N Kudus (Variabel Y), menujukkan bahwa r hitung (rxy) lebih besar dari r tabel (rt). Artinya r h = 0,791 > r t = 0,301.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka saran yang diajukan sebagai berikut : 1) Guru Bimbingan Konseling dapat memberikan layanan informasi tentang masalah bahaya Narkoba dan Ketentuan pidana penyalahgunaan Narkoba berdasarkan UU No 9 / 1970., 2) Guru Bimbingan Konseling dapat memberikan layanan informasi tentang fungsi layanan pemahaman dan pencegahan, yang bertujuan agar siswa memiliki pemahaman tentang bahaya Narkoba., 3) Guru Bimbingan Konseling dapat berkerjasama dengan guru Agama untuk memberikan ceramah keagamaan pada setiap PHBI guna mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa., 4) Guru Bimbingan Konseling dapat melakukan bimbingan kelompok guna menghindari pengaruh negatif dari hubungan social dalam kehidupan sehari-hari., 5) Guru Bimbingan Konseling dapat melakukan kegiatan bimbingan individual bagi anak didik atau klien yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah dan anak didik yang menyimpang dari aturan agama misalnya mengambil barang orang lain tanpa ijin, dengan memberi pengertian supaya tidak melakukannya kembali., 6) Guru Bimbingan Konseling dapat melakukan layanan bimbingan kelompok guna membahas pentingnya ketaatan menjalankan ibadah shalat kaitannya dengan pencegahan kenakalan remaja.



Penerapan Bimbingan Belajar dan Model Konseling Client Centered untuk Mencapai Belajar Tuntas Siswa kelas IX G SMP 3 Kudus
Tahun Pelajaran 2006/2007

Sri Wasonowati


Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah lanjutan tingkat pertama, kita jumpai adanya beberapa siswa yang belum mencapai belajar tuntas yang telah ditetapkan sesuai SKBM. Hal yang demikian itu di asumsikan memiliki kesulitan belajar, sehingga perlu mendapatkan bimbingan belajar, dan penerapan model konseling Client Centered.
Tujuan penelitian ini adalah untuk : 1) Mengetahui faktor-faktor penyebab tidak tercapainya belajar tuntas, 2) Mengetahui pengaruh bimbingan belajar dengan model konseling Client Centered untuk tercapainya belajar tuntas.
Manfaat teoritis penelitian : a) Menambah wawasan kepada guru BK dalam menangani siswa yang belum dapat mencapai tuntas belajar, b) Memberikan masukan kepada guru mata pelajaran yang mengajar kelas IX G SMP 3 Kudus tentang siswa yang mendapatkan prestasi di bawah stadar belajar tuntas.
Manfaat praktis penelitian : a) Bimbingan belajar dan konseling Client Centered dapat digunakan sebagai acuan oleh guru dan siswa untuk menemukan kesulitan dalam belajar, yang selanjutnya digunakan dalam menjenjangkan belajar tuntas, b) Bimbingan belajar dan konseling Client Centered bisa membantu pemecahan masalah, menindak lanjuti program belajar tuntas (Mastery Learning).
Pedekatan penelitian yang digunakan salah satunya adalah melalui layanan bimbingan belajar, dengan teknik pendekatan konseling Client Centered.
Penelitian ini termasuk penelitian kasus, yaitu penelitian yang dilakukan secara terperinci dan mendalam terhadap suatu gejala tertentu, sehingga tingkat kemajuan tingkah laku individu dapat dipelajari melalui fase per fase pada siswa kelas IX G SMP 3 Kudus Tahun palajaran 2006 / 2007. fokus penelitian ini adalah dengan menunjukkan pada sasaran yaitu 2 (dua) siswa kelas IX G yang diduga mengalami kesulitan belajar, karena sering tidak masuk tanpa ijin dan prestasi belajar yang rendah yang diperoleh dari hasil Latihan Ujian (Try Out). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, observasi, home visit dan wawancara.
Bentuk analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik analisis data induksi sistem Bacon dan Induksi komplit, yaitu peneliti mengumpulkan faktor-faktor sebanyak-banyaknya yang kemudian ditabulasikan dan kemudian ditarik kesimpulan dan langsung dilanjutkan pemecahan masalah.
Berdasarkan dari hasil penelitian tersebut, akhirnya dapat disimpulkan bahwa penyebab (DN) belum mencapai batas tuntas adalah karena faktor internal, yaitu tidak pasnya perilaku siswa dengan sering membolos, tidak adanya tanggungjawab, dan dapat menimbulkan masalah, sedangkan faktor eksternal yang menimbulkan masalah sehubungan dengan pemberitahuan orang tua tentang tidak melanjutkan belajar/sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, aktifitas kerja sehari-hari orang tua, serta jenjang pendidikan orang tuanya. Sedangkan penyebab (SM) belum mencapai batas tuntas dari faktor internal adalah kebiasaan belajar sehari-hari dirumah dengan tidak memanfaatkan jam efektif belajar digunakan untuk menonton TV. Sedangkan faktor eksternal dari keluarga, dengan kurangnya bimbingan belajar dari orang tua, mengingat ayahnya bekerja di luar kota dan ibu yang memanjakan. Untuk membantu mengatasi kesulitan belajar karena siswa tidak bertanggung jawab dilaksanakan bimbingan belajar dan konseling Client Centered secara terencana dan bertahap. Dengan penerapan konseling Client Centered ternyata dengan kesadaran diri yang bertanggung jawab, klien mampu mengubah dirinya sendiri.
Saran hasil penelitian : 1) Kepada Kepala Sekolah hendaknya mengadakan konferensi kasus setiap ada permasalahan yang serius, adanya kegiatan supervisi pendidikan secara berkesinambungan. 2) Kepada Guru pembimbing hendaknya melaksanakan tugas secara profesional, mengetahui sejak dini siswa yang bermasalah, baik pribadi maupun kelompok.



Hubungan Konsep Diri Dengan Motivasi Berprestasi Pada Anak Sulung Siswa Kelas IX MTs Negeri Kudus Tahun 2007.

Umrotul Fadlilah


Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kenyataan banyak siswa yang mengalami kegagalan berprestasi bukan karena disebabkan tingkat intelegensi yang rendah atau keadaan fisik yang lemah, melainkan karena kurangnya motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi terbentuk dan berkembang karena proses belajar dan pengaruh lingkungan. Dalam interaksinya dengan lingkungan individu menerima tanggapan yang nantinya dijadikan sikap terhadap dirinya sendiri, keluarga sebagai lingkungan yang pertama dan utama diharapkan dapat memberikan kesempatan atau suasana yang mendukung terhadap pencapaian tujuan individu.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui :
a. Tingkat konsep diri anak sulung siswa kelas IX MTs Negeri Kudus Tahun 2007,
b. Tingkat motivasi berprestasi pada anak sulung siswa kelas IX MTs Negeri Kudus Tahun 2007, c. Hubungan antara konsep diri dengan motivasi berprestasi pada anak sulung siswa kelas IX MTs Negeri Kudus Tahun 2007.
Manfaat penelitian ini adalah: a. hasil penelitian ini diharapakan dapat digunakan oleh guru bimbingan-konseling sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan bimbingan konsep diri dan motivasi berprestasi siswa dalam proses belajar mengajar khususnya bagi siswa yang berstatus anak sulung dan siswa pada umumnya, b. hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh orangtua sebagai bahan pertimbangan dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya setelah menginjak remaja dengan memperhatikan urutan kelahiran anak, karena pola asuh dan pendidikan orangtua bepengaruh terhadap perkembangan motivasi berprestasi pada anak, c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan penelitian di bidang bimbingan dan konseling khususnya dan ilmu psikologi pendidikan pada umumnya.
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas IX MTs Negeri Kudus yang berstatus anak sulung. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan Purpossive cluser non random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan angket skala konsep diri dan angket skala konsep motivasi berprestasi serta dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah korelasi product moment dari Pearson dan persentase.
Hasil analisis data menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara konsep diri dengan motivasi berprestasi pada anak sulung, ditunjukkan dengan nilai rhitung 0,3200 dengan taraf signifikan 5%. Ini membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat konsep diri maka akan semakin tinggi tingkat motivasi berprestasi. Subyek penelitian memiliki konsep diri yang tinggi ditunjukkan dengan rata-rata 77,02% dan juga mempunyai motivasi berprestasi tergolong tinggi yang ditunjukkan dengan rata-rata 81,04%.
Berdasarkan hasil penelitian ini diajukan saran : a. Sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang menantang dan memenuhi kebutuhan belajar siswa, b. Guru diharapkan juga dapat membuat siswa merasa mampu bertanggungjawab, mendapat dukungan, mendidik siswa untuk mencapai tujuan yang realistis, menilai diri secara realistis dan mendorong agar bangga pada diri sendiri, c. orang tua agar selalu menjaga suasana keluarga yang hangat, kompetitif, sehat, dan konstruktif antar saudara, d. Siswa selalu bersikap positif, relistis percaya diri dan memiliki tujuan yang jelas.
Dengan demikian, diharapkan siswa dapat meningkatkan motivasi prestasi belajar sehingga dapat mengoptimalkan hasil belajarnya.





diposting oleh
Susilo Rahardjo
Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Muria Kudus

1 komentar:

proactive mengatakan...

salam kenal pak saya alumni mahasiswa UMK tahun 2007 jurusan bahasa Inggris